Oleh: explorerajaampat | 12 November 2010

Arborek

Usai mendinginkan diri dalam hangatnya air laut hidden bay, kapten speedboat mengajak kami menuju perhentian selanjutnya. Arborek. Di tengah perjalanan menuju Arborek, kami melewati hamparan peternakan mutiara yang ditandai gubuk-gubuk terapung di permukaan laut. Di kejauhan tampak segerombolan burung-burung laut riuh rendah sedang berebut menyantap kumpulan ikan. Setelah kurang lebih 15 menit melaju kami mendekati sebuah pulau kecil berpagar rumah penduduk di tepi pantai. Speedboat kami memelan dan para awak mulai sibuk menambatkannya di jetty. Kami kembali saling berpekik girang melihat ke kanan, kiri, depan, dan belakang karena air pantai pulau Arborek yang begitu jernihnya.

Jernih air di Arborek

Ikan-ikan terlihat melayang di atas pasir. Tiga ikan panjang pipih seperti mistar berbaris mengejar gerombolan ikan-ikan kecil yang merapatkan diri ke bibir pantai menghindar. Kami semua takjub melihat indahnya kehidupan di sekitar jetty pulau Arborek. Satu per satu kami naik ke jetty dan mulai sadar bahwa ada juga cerita kehidupan di atas air. Sudut pandang dari jetty memperlihatkan desa Arborek yang bersih, apik, dan rapi. Kami beringsut ke tempat bersantai penduduk setempat. Senyum ramah para ibu dan mata ingin tahu anak-anak menyambut kami.

Ikan mistar berbaris

Kami memutuskan untuk mengitari pulau kecil ini. Berjalan menembus kampung, anak-anak kecil membuntuti langkah kami dengan riang. Setelah melewati rumah-rumah penduduk, kami mampir di homestay yang dikelola oleh penduduk setempat dengan bantuan dana dari pemda. Letaknya di mulut pantai yang sepi. Bangunannya berupa rumah panggung bahan kayu dengan fasilitas cukup memadai. Genset untuk listrik, shower untuk mandi, toilet duduk, dan juga kasur di atas ranjang dengan lemari pakaian.

Halaman bibir pantai

Penjelajahan pulau kecil Arborek kami lanjutkan dengan melintasi beberapa bibit pohon bakau yang dikelola oleh masyarakat setempat demi menjaga kelestarian hayati di sekitar pulau mereka. Tidak lama berselang beberapa orang mulai membungkukkan badan di atas pasir. Beberapa yang lain mulai menundukkan kepala dan menyibak-nyibak pasir dengan tangan atau kaki mereka. ”Nih! Bagus banget! Itu, ada lagi di sebelah sana!” jerit seorang. Sebentar saja waktu yang diperlukan untuk membuat kami kewalahan memilih kerang mana yang lebih bagus. Tentu saja kami hanya mengambil kerang yang sudah ditinggalkan penghuninya. Besar, kecil, sedang, semuanya tampak cantik. Aku simpan satu kerang kecil dalam kantong celanaku. Akan ku letakkan di kamarku, di samping foto-foto keluarga untuk mengingatkanku akan indahnya pulau Arborek.

Berlari di pagar bakau

Kurang dari satu jam kami telah selesai mengitari pulau dan kembali ke jetty. Makan siang pun menunggu untuk disantap. Kami tidak memberi ampun pada nasi putih dan bala tentaranya kakap goreng tepung, mi goreng sayur, serta sambal ulek. Semua ludes dihabisi tanpa belas kasihan. Setelah perut terisi, tiba saatnya tuk berpisah dengan Arborek. Kampung kecil, apik, bersih, dan rapi itu tetap memancarkan keramahan dan ketenangan yang melarang kami untuk pergi. Maka kuyakinkan dalam diriku bahwa aku pergi dari Arborek untuk kembali.

Di mana Bintang Laut?


Responses

  1. Amazing Island !!
    Bagaimana caranya saya bisa bawa tamu-tamu saya ke Raja Ampat ?

  2. saya sangat bertrimakasi kpd tuhan krna dia memberikan keindahan yang sangat indah bagi kmpg ku

    By Putra Desa Arborek
    Adventus Mambrasar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: